DAFTAR NOVEL TAHUN 2017
KETIKA AYAH PERGI
I’TIKAF CINTA
BUKAN SANTRI BIASA
THE NEXT NOVEL
Opsi Judul :
Fasciola : Cacing hati.
Inseminasi : Kawin suntik
Protonema : Calon tumbuhan lumut.
Protalium : Calon tumbuhan paku.
Hibrid : Hasil perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda.
Flagellata : Golongan hewan bersel satu yang bergerak dengan menggunakan bulu cambuk.
Bioma : Sekelompok makhluk hidup yang menempati daerah luas di permukaan bumi.
Autogami : Penyerbukan sendiri.
Dihibrid : Dua sifat berbeda.
Pengagum rahasia
Segelas kopi panas
Dimensi dua hati
Loper koran
Tokoh :
Aprilia larasati : Wajahnya cantik , penyayang , pendiam , rasa ingin tahu yang tinggi, penyabar, paling enak di ajak curhat
Julia Rahman : teman dekat aprilia, suka menyemangati aprilia, orangnya konyol, suka bercanda, periang , murah senyum , ramah, diam – diam julia rahman suka dengan julio kevin, namanya sama.
August hermansyah : Ganteng, tubuhnya tinggi , matanya sipit mirip china, kulitnya putih, kharismatik , maco, gak banyak omong, orangnya suka terus terang.
Mei Chandra : anaknya dosen, sombong , kaya raya, glamor, sedikit egois, paling suka lihat orang menderita , suka membully orang.
Julio Kevin : suka dengan aprilia, orangnya pintar dan cerdas, penulis buku, fotografer, pengagum rahasia, teman dekan august hermansyah.
Setting :
Kampus UNAIR
Taman
Pepustakaan
Rumah bapaknya Mei chandra
Fakultas
SINOPSIS :
Julio kevin diam – diam naksir dengan Aprilia larasati. Dia berteman sejak SMP. Mulai dari kelas satu sampi kelas tiga dia selalu satu kelas. Ibunya Aprilia adalah guru favoritnya julio kevin selama di SMP. Ibunya mengajar pelajaran bahasa indonesia. Pertemuan Aprilia dengan kevin terpisah sejak mereka berdua lulus. Aprilia pindah ke luar kota bersama tantenya. Dan kevin masih tetap di kota semarang.
Suatu saat mereka di pertemukan kembali. Entah itu emang kebetulan atau memang sebuah keajaiban. Mereka berdua lulus dan masuk di Fakultas sains dan teknologi (FST). Keduanya masuk di jurusan biologi. Pertama kali julio kevin terkejut.ternyata perubahan wajah Aprilia sungguh luar biasa. Aprilia tambah cantik.
Disana mereka bertemu dengan sahabat dekatnya Aprilia. Dan saat itu julio kevin dikenalin dengan julia rahman. Kebetulan namanya sama – sama bulan juli. Saat itu julia rahman tertarik dengan julio kevin, sementara itu julio kevin tidak suka. Dia lebih suka dengan aprilia. Dari dulu sampai sekrang aprilia masih belum peka , kalau julio kevin itu sangat kagum dengan dirinya.
Hingga pada akhirnya hujan sangat lebat. Julio kevin rela janjian di taman kampus. Namun saat itu aprilia tidak ada. Jelas julio kevin sangat kecewa. Hingga suatu saat julio kevin dan julia rahman kepergok sedang berduan di perpus. Melihat kejadian ini aprilia malah menyindir mereka berdua. Hati kevin seakan hancur.
Saat itu sedang ada acara penilitian ilmiah di gunung bromo. Mei chandra anaknya dosen yang kaya raya. Dia sangat benci dengan aprilia. Mei chandra sebenarnya cemburu. Dia kira aprilia itu dekat dengan august. Sebenanrya mei itu suka sama august. Kemanapun aprilia pergi disana pasti ada august mereka septi adek dan kakak. Melihat kedekatan august dengan aprilia. Kevin sedikit cemberu. Padahal augus sendiri sebenarnya tidak punya rasa apa2 dengan aprilia cuman sekedar sahabat.
Hingga pada suatu saat. Mei chandra menghasut kevin. August diam – diam mengajak keluar malam aprilia. Melihat hal ini kevin marah besar. Terjadilah pertengkaran antara august dan kevin. Melihat mereka bertengkar, aprilia langsing menangis. “Kita bertiga kan sahabat, kenapa harus bertengkar.” Dari kejadian itulah kevin menjadi tidak percaya diri. dia sudah putus asa untuk mendapatkan aprilia.
Nah, saat itu ternyata ketahuan. Julio rahman sebenarnya tahu kalau selama ini mei chandra yang menghasut kevin. Julio rahman sebenarnya tidak suka si kevin ngejar2 aprilia. Hingga pada suatu saat, semua rahasia itu terbongkar. Akhirnya si julia rahman mengaku, kalau selama ini mei chandra telah menghasut aprilia. Saat itu kevin langsung meminta maaf dengan august dan aprilia.
Saat itu kevin mengadakan acara bedah buku. Dia menerbitkan novel terbarunya. Jauh – jauh dari semarang ke surabaya, aprilia dan ibunya datang untuk menyaksikan acara ini. setelah acara selesai, si kevin langsung mengungkapkan perasaanya kalau dia itu suka sama aprilia. Dan saat itu ibunya langsung merestuinya. Akhirnya mereka berdua menikah.
Setelah itu mei chandra berhasil mendapatkan hatinya august. Orang tuanya juga setuju. Mereka akan merencanakan acara pernikahanya di bali. Mengajak semua teman- temanya. Sementara si julio rahman masih ingin melanjutkan s2 nya di belanda. Saat itu mereka berpamitan dan saling memberi motivasi.
TEKNIK PEMBUATAN NOVEL
Pelajari berbagai macam majas. Dan kata2 yang sesuai EYD.
“Initinya novel ini sedikit meniru punya novelnya dee. Gue harus memakai kata2 biologis dan belajar tentang floran dan fauna serta nama ilmiahnya. Settignya di laboratorium. Pokoknya lebih menedepankan sains dan ilmu pengetahuna lainya.
TARGET
Gue target dua bulan selesai. Mulai november sampai desember. Atau paling enggak janari akhir udah terbit.
Cara agar bisa mood.
Bayangin lho pacaran sama aida
Pilih waktu pagi untuk menulis
Jangan lupa berikan kesan motivasinya.
DAFTAR ISI :
Mesophyta, yaitu jenis-jenis tumbuhan yang sangat sesuai hidup di lingkungan yang lembap tetapi tidak basah, seperti anggrek dan cendawan.
Ruang waktu
Dua Dimensi
Pot Bunga
Pensil ajaib
Guru teladan
Evolusi kehidupan
Taman bunga
Salah tingkah
Kacamata baru
Belajar kelompok
Tamu tak di undang
Hujan semalam
Buah delima
Anatomi cinta
Kepompong kupu – kupu
Selalu ada gulma
Pithecanthropus erectus
Kaktus terakhir
Rafflesia arnoldii
Janji suci
Mesophyta
Musim hujan telah tiba. Hempasan angin meluluhkan hati. Aku termenung melihat genangan air. Duduk di atas rumah pohon beralaskan jerami. Terlihat satu persatu semut – semut kecil bepergian. Mereka mencari tempat untuk berteduh. Tak terasa waktu senja telah tiba. Kini saatnya, aku harus kembali ke rumah. Mungkin, ibu sudah cemas menungguku pulang ke rumah.
Aku mengayuh sepeda secepat kilat menyambar. Air hujan membasahi baju dan celana. Pandanganku mulai kabur ketika angin topan menerjang. Daun – daun pepohonan berjatuhan. Sampah – sampah plastik berterbangan. Aku terpeleset di selokan. Rantai sepedaku terlepas. Terpaksa aku harus menuntun sepeda ke rumah.
Tubuhku basah kuyup. Aku menggigil kedinginan. Ibuku membawakan secangkir jahe hangat. Tak ada omelan yang keluar dari mulut ibuku. Air hangat sudah siap di dalam bak mandi. Aku merasakan sensasi air hangat. Tubuhku yang kedinginan perlahan mulai hilang. “Besok kamu sekolah pakai sepeda apa?” tanya ibuku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. “Besok pinjam sepedanya paman. Pokoknya kamu jangan sampai bolos sekolah.”
Mentari pagi bersinar terang. Suara burung bersahut – sahutan. Libur sekolah sudah berakhir. Hari ini adalah hari pertama kali aku masuk sekolah. Aku mengayuh sepeda kebo milik paman.Aku melewati ladang persawahan yang membentang luas. Nyiur tanaman padi menyapaku setiap pagi. Jarak sekolah dengan rumahku lumayan jauh. Dalam waktu setengah jam aku sudah sampai di SMP N 1 Mijen. Sekolah ini adalah sekolah paling favorit di Kabupaten Demak.
Aku duduk di bangku paling pojok dan paling depan. Teman – teman lebih suka duduk di bangku belakang. Katanya mereka takut. Kalau duduk di depan sering di suruh maju. Kebetulan hari ini ada PR matematika. Guru matematika saat itu terkenal dengan julukan Si Raja Singa. Guru ini paling ditakuti seluruh siswa di SMP ini. Namanya Pak Catur. Tubuhnya tinggi tegap. Kumisnya yang tebal membuat semua siswa ketakutan. Tapi, anehnya. Di kelas aku menjadi murid favoritnya. Setiap kali ada papan tulis yang kotor. Aku selalu menjadi orang pertama yang menghapusnya. Mungkin dengan cara inilah, aku bisa mengambil hatinya Pak Catur.
Sejak kecil aku paling benci dengan pelajaran matematika, karena aku paling phobia kalau melihat angka – angka. Disisi lain ada pelajaran yang paling aku suka yaitu, pelajaran bahasa Indonesia. Bakat menulisku dari dulu sampai sekarang terlahir dari pelajaran ini. Ditambah, guru bahasa Indonesaiku waktu itu suka bercerita. Saking khusu’nya pas dengerin cerita. Beberapa temanku ada yang sampai mengantuk. Namanya Bu Sri Wahyuni. Beliau termasuk guru paling senior di SMP. Diantara guru – guru yang lain beliaulah yang paling tua.
Bel tanda pulang sudah berbunyi. Aku bergegas membereskan semua buku ke dalam tas. Setelah itu aku langsung pergi ke luar kelas. Tak sengaja aku bertabrakan dengan seorang perempuan yang tak ku kenal namanya.
“Maaf, aku terburu – buru.” ucap aku sambil membantu cewek ini berdiri. “Lain kali lihat – lihat kalau jalan.” Wajahnya tampak sedikit kesal kepadaku. “Namaku Julio Kevin. Panggil saja Kevin. Namamu siapa?” tanya aku kepada cewek yang aku tabrak tadi. “Namaku Aprilia Larasati. Kamu anak 9F,kan?”. Tangan Aprilia terasa dingin bercampur hangat. Pokoknya rasanya nano – nano gitu. “Iya, aku anak 9F. Emang kenapa?” terlihat matanya berbinar – binar melihat ruangan kelas ini. “Besok, aku pindah di kelas ini.”
Sejak aku bertabrakan dengan Aprilia, nafsu makan siangku sedikit berkurang. Saat itu aku langsung pulang ke rumah. Di tengah jalan sambil mengayuh sepeda, aku masih mengingat senyum wajahnya yang indah. Bola matanya bagaikan permata. Hidungnya mancung dan sedikit pipih. Rambutnya bergelombang bagaikan ombak. Seluruh raut wajahnya membuatku terlena. Aku melamun tak sadarkan diri. Wanita tadi seakan menyihir perasaanku.
Malam ini aku mengerjakan PR bahasa indonesia. Menulis puisi menjadi tugas pertamu di Kelas 9F. Kelas ini merupakan kelas paling favorit pada waktu itu, yang bisa masuk kelas ini hanya siswa siswi yang mempunyai predikat nilai akademik paling tinggi. Aku bersyukur, selama tiga tahun berjalan. Aku selalu masuk di kelas yang paling favorit.
Tak seperti biasanya aku mengaca di depan kaca. Aku melihat wajahku sendiri. Tak biasanya aku memakai minyak wangi. Hari ini aku memakai minyak wangi. Aku jarang sekali menyisir rambut. Mungkin, ini pertama kalinya aku menyisir rambut. Penampilanku jauh berbeda dari hari – hari sebelumnya. Ibuku sempat heran dan geleng – geleng kepala. “Kamu itu mau sekolah apa mau jadi foto model?. Kayak anak cewek aja pake dandan segala.” Ibu mulai menyindir. Aku tak peduli dengan omonganya. “Kamu naksir sama cewek, ya?” goda ibuku. Saat itu aku memasang wajah cuek. “Sarapan yang kenyang. Jangan lupa setelah pulang sekolah bantu ibu nyuci piring.” ucap ibu sambil membereskan piring – piring kotor. “Iya, bu. Aku pamit sekolah dulu.” Jawab aku seraya mencium tangan ibu sebelum berangkat sekolah.
Dengan penuh rasa percaya diri, aku berjalan menuju kelas. Tapi, ada sedikit pemandangan aneh. Orang – orang melihatku sambil menahan tawa. Tak lama kemudian ada salah seorang siswa yang bilang kepadaku. “Bro!, ritsleting kamu terbuka.” ucap salah seorang siswa kampret dengan suara yang cukup keras. “Waduh!” ungkap aku dalam hati. Wajahku memerah bagaikan martabak telor. Aku malu setengah mati. Bayangin aja. Rambut udah rapi. Wajah udah bersih. Seragam udah aku masukin ke celana. Eh, gak taunya ritsletingku terbuka. Masih untung burungnya gak terbang kemana-mana.
Suasana kelas terlihat sepi. Belum ada sama sekali orang yang masuk. Aku bengong sendirian di depan kelas sambil melihat papan tulis kosong. Bel istirahat berbunyi. Tak ada satupun tanda – tanda kehidupan disini. Perlahan rasa kantuk mulai menggoda. Sejenak aku terlelap tidur bersandar di tembok. Tak lama kemudian, aku terbangun. Tiba – tiba di dalam kelas semua siswa dan siswi lagi serius ngerjakan sesuatu. Sengaja aku bertanya dengan teman satu bangku.
“Lagi ngerjain apa, lho?”.
“Hari ini ulangan matematika.”
“Aduh!. Kenapa gak bilang dari tadi?”
“Lagian kenapa kamu tidur di kelas.”
“Aku ketiduran, kampret!.”
Beruntung hari ini Pak Catur gak bisa masuk. Dia sedang menghadiri agenda rapat di luar kota. Ulangan matematika hari ini tanpa ada pengawasan yang serius. Aku hanya bisa tolah – toleh kebelakang. Aku perhatikan satu persatu mereka sibuk sendiri – sendiri. Tak tanggung – tanggung ada seratus soal matematika yang harus aku kerjakan. Kelasku terkenal dengan kelas yang paling cuek. Mereka lebih mementingkan dirinya sendiri. Mereka saling bersaing mendapatkan nilai terbaik. Tak ada satupun teman – temanku disini yang bisa di ajak kerjasama.
Kurang setengah jam lagi waktu mengerjakan ulangan akan selesai. Banyak temanku yang mengeluh. Ada yang baru mengerjakan 30 soal. Ada juga yang baru selesai 50 soal dan yang paling parah, aku belum mengerjakan apa – apa. Dalam waktu setengah jam kayaknya mereka cukup kesusuhan. Aku sendiri punya inisiatif maju ke depan kelas. Saat itu teman – temanku melihatku dengan tatapan mata aneh.
“Aku yakin kalian tidak akan mampu mengerjakan ulangan ini tanpa adanya kerjasama.” ucap aku dengan suara yang keras. Salah satu temanku ada yang mendukung. “Bener, itu!”. teman – teman yang lain malah besorak, “Huuuu.....”. “Ok. Tenang – tenang. Disini yang paling pinter matematika siapa?” tanya aku seolah-olah menjadi pahlawan kesiangan. “Krik , krik, krik.” Bunyi suara jangkrik. Mereka cuek melihat aku ngomong di depan kelas. Aku hanya bisa memegang kepala sambil menggigit – gigit pensil.
Waktu mengerjakan soal kurang lima belas menit lagi. Saat itu soalnya pilihan ganda. Jadi, kalau aku pakai teknik pengawuran. Dalam waktu satu menit saja, aku bisa menyelesaikan semuanya. Terlihat Aprilia sudah selesai mengerjakan semua soal ulangan. Sebenarnya aku masih malu mau pinjem jawabanya. Terpaksa aku harus menyuruh temanku untuk meminjamkanya kedaku. “Pril, kamu pinter banget.” Temanku yang satu ini sok basa – basi. “Pril, boleh gak pinjem jawabanya.” Tak lama kemudian dia langsung menyerahkan soalnya kepada temanku.
Saatnya aku beraksi. Dalam waktu lima menit, semua soal sudah aku copy paste. Aku melihat Aprilia menengok ke belakang. Dia melihatku sambil geleng – geleng kepala. “Terimakasih, sudah di pinjemi lembar jawabanya.” ucap aku dengan nada sedikit grogi. “Iya, sama – sama. Lain kali jangan menyuruh temanmu. Lebih baik kamu terus terang aja. Jangan malu – malu.” Tak kusangka, ternyata Aprilia orangnya nyantai. Enak kalau di ajak ngobrol.
Waktu jam pelajaran berganti. Suara langkah kaki terdengar dari luar kelas. Kayaknya suara langkah itu tidak asing lagi bagiku. Teman – teman duduk berjajar rapi tak seperti biasanya. Terlihat Bu Sri membawa pot bunga. Aku penasaran dengan pot bunga itu. “Selama siang anak – anak?” sapa Bu Sri dengan suara yang merdu. “Siang, Bu?” jawab seluruh siswa dan siswi.
Kemilau matahari bersinar, tumpuan dan harapan bergantung denganya. Aku lemah tak berdaya melihat bidadari manis yang duduk di depanku. Rambutnya indah bergelombang. Tak ada mimik wajah yang murung. Bidadari manisku selalu tersenyum. Namun, aku masih ragu denganya. Sampai saat ini dia masih menganggapku sebagai sahabat.
“Kevin, silahkan maju ke depan!” ucap Bu Sri
“Iya, Bu.” Aku melangkah dengan penuh percaya diri. kakiku mulai bergemetar. Sorot mata teman – teman, melihatku dengan tatapan mata serius.
“Kira – kira pot bunga ini kamu kasih bunga apa?” tanya Bu Sri
“Bunga Anggrek, Bu.” Jawab aku dengan tegas
“Coba kamu buat puisi tentang bunga anggrek.”
Sejenak aku mengambil nafas. Keringat dingin mulai keluar. Mataku tertuju kepada Aprilia. Dia memperhatikan aku dengan antusias. Matanya terlihat berbinar – binar. Kali ini aku baru dapat inspirasi. Puisi bunga anggrek ini akan aku tujukan kepada sosok wanita yang aku puja selama ini. dengan penuh percaya diri, aku mulai merangkai kata – kata indah untuknya.
“Bunga Anggrek”
Sorot matamu menikam hatiku
Senyumanmu meluluhkan hatiku
Keanggunanmu merobohkan imanku
Kecantikanmu kobarkan semangatku
Oh..Bunga Anggrek
Warnamu tajam memikat ombak
Mahkotamu harum semerbak
Bagaikan bulan merindukan martabak
Andai engkau mengerti perasaanku
Bahwa aku sangat mencintaimu
Aku menunggumu sampai di ujung waktu
Berharap engkau datang kepadaku
Oh..Bunga Anggrek
Jangan sampai engkau layu
Terkikis bersama masa lalu
Pagi yang indah akan menjemputmu
Seluruh teman – teman memberikan standing applause kepadaku. Bu Sri sempat tidak percaya aku bisa melakukan hal ini. Semuanya aku lakukan dengan spontanitas. Bait – bait yang keluar seakan tersihir dengan kecantikan Aprilia. Saat itu aku dipersilahkan duduk kembali. “Puisimu indah sekali.” Ujar Aprilia sambil nengok ke belakang. “Terimakasih, pril.” Jawab aku sedikit grogi. Hatiku seperti terkena letusan Bom Hirosyima dan Nagasaki. Ternyata Aprilia suka dengan puisiku.
Ceritanya mata pelajaran bahasa indonesia di suruh baca puisi di depan kelas.
Nanti buat puisi untuk aprilia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar